Coaching Clinic Photography | SMK PGRI 1 PONOROGO

Telah dibuka untuk umum studio smk pgri 1 ponorogo Jl Irawan 13 Ponorogo, unit produksi Multimedia, dengan fasilitas yang terlengkap diantara smk seponorogo More »

Basic Photography Course, Semeriza School Of Photography 2014

Sebuah metoda kursus yang diperuntukan bagi yang mempunyai hobi dalam dunia fotografi,untuk siapa saja, tua/ muda, pria / wanita, baru /sudah lama menyukai dunia fotografi atau bahkan yang sudah pernah kursus fotografi ditempat lain. More »

Pelatihan Komputer Desain grafis SMK PGRI 1 Ponorogo

Pelatihan Komputer Desain grafis SMK PGRI 1 Ponorogo, Pendaftaran dibuka setiap hari kerja, gratis bagi siswa SLTP/MTS yang berprestasi More »

Basic Photography Course, Semeriza School Of Photography 2014

Sebuah metoda kursus yang diperuntukan bagi yang mempunyai hobi dalam dunia fotografi,untuk siapa saja, tua/ muda, pria / wanita, baru /sudah lama menyukai dunia fotografi atau bahkan yang sudah pernah kursus fotografi ditempat lain. More »

Pelatihan Komputer Desain grafis SMK PGRI 1 Ponorogo

Pelatihan Komputer Desain grafis SMK PGRI 1 Ponorogo, Pendaftaran dibuka setiap hari kerja, gratis bagi siswa SLTP/MTS yang berprestasi More »

 

Category Archives: Fotografi

Basic Photography Course SMK PGRI 1 Ponorogo

Sebuah metoda kursus yang diperuntukan bagi yang mempunyai hobi dalam dunia fotografi,untuk siapa saja, tua/ muda,
pria / wanita, baru /sudah lama menyukai dunia fotografi atau bahkan yang sudah pernah kursus fotografi ditempat lain.

Photography

doc : multimedia.smkpgri1po.sch.id

Antara Etika dan Sensasi

16 Januari 2014 pukul 14:38

Antara Etika dan Sensasi

Hotli Simanjuntak

Dalam fotografi ada satu pepatah yang sangat terkenal : “sebuah foto mewakili ribuan kata”.  Pepatah ini sangat terkenal karena pada kenyataanya sebuah foto memang mampu merepresentasikan sesuatu lewat bahasa visual yang tergambar dalam selembar foto biasa. Apalagi jika fotonya memang sebuah foto yang kuat secara konten dan sangat “berbicara”

Namun pepatah ini juga justru menjadi sebuah hal yang blunder ketika penikmat foto atau audiens menginterpretasikan sebuah foto berdasarkan bahasa mereka masing-masing. Setiap audiens atau penikmat foto akan memiliki interpretasi yang bebas terhadap sebuah foto yang terpampang dihadapanya. Bahkan tidak tertutup kemungkinan seseorang akan mengintrepretasikanya dengan bahasa yang sangat liar.

Kisis-kisi soal tata cahaya SMK PGRI 1 Ponorogo

berikut saya lampirkan kisi-kisi soal mata pelajaran tata cahaya, silahkan didownload
Download –> Soal

berikut saya lampirkan materi link1 link2

berikut saya lampirkan materi Lighting, silahkan didownload
Download –> Materi

update kunci jawaban Kamis 12/12/2013

Basic Photography Course, Semeriza School Of Photography

SMK PGRI 1 Ponorogo

SMK PGRI 1 Ponorogo

Memahami Segitiga Exposure Sutter Speed, Aperture dan Iso

Artikel fotografi kali ini kami akan mencoba mengulas tentang Segitiga Exposure Shutter Speed, Aperture dan Iso. Istilah fotografi Exposure bisa diartikan sebagai kemampuan kamera mengumpulkan cahaya yang masuk. Ada tiga hal yang penting untuk mengatur exposure di kamera yaitu Shutter speed, Aperture dan Iso. Hubungan ketiganya biasa disebut dengan segitiga exposure.

Kamera pada dasarnya adalah sebuah alat yang berguna untuk menangkap cahaya melalui sensor kamera. Cahaya yang masuk akhirnya diterjemahkan oleh sensor menjadi sebuah gambar. Sederhana saja, jika cahaya sedikit, gambar akan gelap atau disebut dengan (underexposed/UE). Dan jika cahaya yang ketangkap sensor kamera banyak, gambar akan menjadi terlalu terang (overexposed/OE).

Mengatur diafragma dan kecepatan shutter dalam mode manual (M)

Manual mode (dilambangkan dengan huruf M) pada kamera digital disediakan bagi mereka yang ingin berkreasi dengan eksposure dalam fotografi. Intinya, kendali akan nilai shutter dan diafragma yang digunakan, sepenuhnya ditentukan oleh sang juru potret. Tidak seperti mode lain (P/A/S) yang menjadikan light-meter kamera sebagai penentu referensi eksposure yang tepat, pada mode M ini light-meter hanya menjadi indikator seberapa banyak eksposure yang kita tentukan mendekati eksposure yang dianggap tepat oleh kamera.Tantangan yang dihadapi dengan memakai mode manual ini hanya dua : kalau kita salah menentukan eksposure, hasil foto bisa menjadi under-exposed (terlalu gelap) atau justru menjadi over-exposed (terlalu terang). Tujuan fotografi yang baik tentu menghindari adanya over atau under pada sebuah foto yang mana perlu adanya kendali akan eksposure yang tepat dan teliti.
Sekedar mengingat tulisan saya terdahulu soal optimalkan fitur manual pada kamera, bukaan diafragma dan kecepatan shutter memegang peranan utama dalam menentukan nilai eksposure. Diafragma menentukan seberapa banyak intensitas cahaya yang dibolehkan untuk masuk ke kamera secara bersamaan, sementara shutter menentukan seberapa lama cahaya mengenai sensor sebelum foto diambil. Sebagai pedoman dalam fotografi, dikenal istilah f-stop, yang intinya menyatakan seberapa banyak penambahan atau pengurangan intensitas cahaya yang memasuki kamera (Exposure value/Ev). Setiap kelipatan 1-stop artinya kita menambah cahaya dua kali lipat dari nilai stop sebelumnya, atau mengurangi cahaya setengah dari nilai stop sebelumnya.
Pengaturan bukaan diafragma
Untuk dapat mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk melalui lensa, diafragma pada lensa kamera bisa membuka dengan besaran diameter yang bisa dirubah. Besar kecilnya bukaan diafragma dinyatakan dalam f-number tertentu, dimana f-number kecil menyatakan bukaaan besar dan f-number yang besar menyatakan bukaan kecil. Selain itu, secara karakteristik optik lensa, bukaan besar akan membuat foto yang DOFnya sempit (background bisa blur), dan bukaan kecil akan membuat DOF lebar (background tajam).
Saat mengatur nilai diafragma (aperture), ingatlah bahwa setiap stop ditandai dengan nilai f-number tertentu yang digambarkan dalam deret berikut, urut dari yang besar hingga kecil  :
f/1f/1.4f/2 - f/2.8f/4f/5.6f/8f/11- f/16f/22f/32 dst
Sebagai contoh :
  • jika kita berpindah 1-stop dari f/2 ke f/2.8, maka kita akan mengurangi setengah intensitas cahaya yang masuk ke kamera
  • jika kita berpindah 1-stop dari f/8 ke f/5.6, maka kita akan menambah intensitas cahaya yang masuk ke kamera dua kali lipat dari sebelumnya
Perhatikan kalau kamera modern umumnya memberi keleluasaan untuk merubah diafragma di skala yang lebih kecil, dalam hal ini perubahan f-stop dilakukan pada kelipatan 1/2 hingga 1/3 f-stop sehingga bisa didapat banyak sekali variasi eksposure yang bisa didapat dari mengatur nilai diafragma. Sebagai contoh, diantara f/5.6 hingga f/8 bisa terdapat f/6.3 dan f/7.1 yang memiliki rentang 1/3 stop.
tabel-diafragma
Percobaan di bawah ini menunjukkan hasil foto yang didapat dari variasi diafrgama, dengan sebuah foto referensi di f/5.6 (nilai shutter dibuat tetap di 1/125 detik dan ISO 100). Tujuannya untuk melihat bagaimana efek dari merubah bukaan diafragma terhadap eksposure foto yang dihasilkan. Terdapat 3 foto yang over dengan kelipatan 1-stop dan 3 foto yang under dengan kelipatan 1-stop.
contoh-variasi-diafragma
Dari contoh di atas tampak pada 3 stops diatas referensi normal, foto tampak amat terang (over) yang ditandai dengan banyaknya area yang wash-out (highlight-clipping). Demikian juga pada 3 stops dibawah referensi normal, foto tampak amat gelap (under).
Pengaturan kecepatan shutter
Sama halnya dengan diafragma, setelan kecepatan shutter pun punya pedoman berupa deret yang mewakili 1-stop. Berikut adalah variasi kecepatan shutter dengan kelipatan 1-stop, urut dari yang lambat hingga yang cepat ( d menyatakan detik ) :
1d – 1/2d - 1/4d  – 1/8d – 1/15d - 1/30d – 1/60d – 1/125d – 1/250d – 1/500d – 1/1000d
Sebagai contoh :
  • jika kita berpindah 1-stop dari 1 detik ke 1/2 detik, maka kita akan mengurangi setengah intensitas cahaya yang masuk ke kamera
  • jika kita berpindah 1-stop dari 1/60 detik ke 1/30 detik, maka kita akan menambah intensitas cahaya yang masuk ke kamera dua kali lipat dari sebelumnya
Percobaan di bawah ini menunjukkan hasil foto yang didapat dari variasi kecepatan shutter, dengan sebuah foto referensi di 1/125 detik (nilai diafragma dibuat tetap di f/5.6 dan ISO 125). Tujuannya untuk melihat bagaimana efek dari merubah kecepatan shutter terhadap eksposure foto yang dihasilkan. Terdapat 3 foto yang over dengan kelipatan 1-stop dan 3 foto yang under dengan kelipatan 1-stop.
contoh-variasi-shutter
Dari gambar di atas terlihat bahwa semakin cepat shutter speednya, maka cahaya yang masuk ke dalam sensor akan semakin kecil sehingga gambar menjadi lebih gelap. Begitu juga sebaliknya untuk kecepatan yang semakin lambat, cahaya yang masuk akan bertambah banyak sehingga gambar menjadi lebih terang. Dengan kata lain, kita bisa menyatakan bahwa di 1/500 detik hasil fotonya under exposed sebanyak 2 stops dan di 1/30 detik fotonya over exposed sebanyak 2 stops.
Reciprocity
Maka itu dalam memakai mode manual, perubahan nilai diafragma tidak bisa mengabaikan nilai shutter dan sebaliknya. Artinya untuk mendapat eksposure yang tepat, baik diafragma dan shutter memegang peranan yang sama. Ada sebuah istilah penting dalam berkreasi dengan eksposure, yaitu reciprocity, dimana artinya adalah bagaimana setelan shutter dan diafragma harus saling berlawanan untuk meniadakan efeknya. Jadi bila kita mengekspos sensor dengan waktu yang lebih lama, maka secara di sisi yang lain kita mengecilkan bukaan diafragma untuk mengurangi cahaya yang masuk sehingga bisa mendapat eksposure yang sama. Prinsipnya sebuah eksposure konstan bisa didapat dari berbagai variasi nilai shutter dan diafragma, selama mempertahankan prinsip reciprocity ini.
Untuk mencobanya, siapkan kamera anda dan gunakan mode manual. Bila kamera sudah berada di nilai eksposure yang tepat, coba naikkan diafragmanya 1 stop sehingga indikator light-meter akan menunjukkan eksposure bergeser -1 stop. Selanjutnya kurangi kecepatan shutternya 1 stop, tampak indikator light-meter akan kembali ke nilai eksposure normal. Begitulah cara kerja reciprocity, kalau yang satu ditambah, satu lagi dikurangi, sehingga hasil akhirnya tetap sama.
contoh-reciprocity
Contoh diatas menunjukkan beberapa variasi reciprocity yang memberi eksposure konstan. Dari percobaan ini tampak bahwa untuk menjaga supaya eksposure tetap sama, nilai diafragma dan shutter harus saling berlawanan. Bila membuka diafragma besar (f/2), maka shutter harus dibuat cepat (1/1000 detik). Bila mengecilkan diafragma (f/16), konsekuensinya shutter harus dibuat lebih lama (1/15 detik). Inilah esensi dari prinsip reciprocity. Perhatikan dengan bukaan diafragma besar (f/2 hingga f/2.8), didapat foto yang punya background blur, sebaliknya dengan bukaan kecil (f/11 hingga f/16) didapat background dan objek yang sama-sama tajam.
Contoh foto pengujian dan sebagian tulisan di atas diambil dari artikel pada ayofoto.com yang berjudul “Konsep Reciprocity Dalam Menentukan Exposure” yang dibuat oleh Taufik Zamzami, dengan seijin penulis yang bersangkutan pada 19 November 2008.
@dunia  digital
sumber : http://www.ilmufotografi.com/2011/12/mengatur-diafragma-dan-kecepatan.html